top of page

Akar yang Bertarung di Tanah Tandus

Hikmah

July 15, 2026

Tanah itu tandus. Tapi aku tetap menanam.


Entah kenapa, manusia punya kebiasaan aneh, yaitu menyiksa dirinya sendiri dengan cara yang paling halus sekalipun. Bukan dengan luka fisik. Bukan dengan sesuatu yang bisa ditunjuk dan dikatakan, “Ini, ini yang sakit,” melainkan lewat scroll. Lewat satu layar kecil yang setiap harinya menampilkan kehidupan orang lain yang sepertinya selalu lebih terang, lebih penuh, dan lebih… sampai. 


Aku pernah di titik itu. Masih sering, sebenarnya.


Algoritma tidak pernah peduli apakah kamu sedang baik-baik saja atau tidak. Dia akan terus menyuguhkan: si A baru aja keliling Eropa, si B membelikan ibunya perhiasan, si C baru diterima kerja impiannya di usia 23 tahun. Dan aku? Duduk di kamar yang sama, dengan masalah yang sama, dengan jarak antara aku dan mimpi-mimpiku yang terasa seperti tidak bergerak sama sekali.


Iri? Iya, tapi bukan iri yang membara atau yang ingin menjatuhkan orang. Lebih ke… iri yang sunyi. Yang bikin diam-diam bertanya, “Kok aku nggak kayak mereka, ya?”. Pertanyaan itu pelan-pelan menggali lubang di dada. Kecil awalnya. Namun, lama-lama lebih dalam.


Overthinking datang tanpa diundang, seperti tamu yang tidak tahu waktu. Kekhawatiran menumpuk, satu per satu, sampai beratnya tidak masuk akal lagi. Aku mulai mengukur hidupku dengan penggaris milik orang lain, dan tentu saja hasilnya selalu kurang. Selalu salah. Ekspektasi yang aku tanam sendiri, aku sirami sendiri setiap malam, tumbuh menjadi sesuatu yang justru mencekik.


Menanam bunga di tanah tandus, tahu bakal layu, tapi tetap dilakukan.


Ada hari-hari di mana aku pikir sudah berdamai dengan diriku sendiri. Bangun pagi, merasa cukup, merasa oke. Akan tetapi, pemicu itu datang lagi, dalam bentuk yang berbeda-beda, dan aku kembali ke titik yang sama. Kesal. Bukan pada orang lain. Pada diri sendiri, karena kenapa susah sekali untuk tetap tenang?


Ini bagian yang tidak banyak orang ceritakan. Proses penerimaan diri itu naik turun, maju mundur, dan tidak pernah berjalan lurus ke depan begitu saja. Suatu hari kamu merasa damai, besoknya kamu kembali terjatuh di lubang yang sama, dan itu normal. Itu bukan kegagalan. Itu bagian dari bergerak.


Aku mulai menulis jurnal. Bukan karena tahu itu akan berhasil, melainkan karena itu satu-satunya cara aku bisa melihat pertarungan itu dengan jelas, siapa yang sedang melawan siapa di dalam sini. Di halaman-halaman itu aku akhirnya jujur bahwa ada dua suara yang terus beradu. Satu suara yang bilang, “Kamu kurang, kamu lambat, kamu tertinggal”. Satu lagi yang kelelahan tapi masih berbisik, “Tapi kamu masih di sini, masih mau mencoba”. Keduanya keras. Keduanya menyakitkan dengan caranya masing-masing.


Dan ada sesuatu yang bergeser, pelan sekali.


Bukan tiba-tiba sembuh. Bukan momen besar yang mengubah segalanya dalam sekejap. Namun, aku mulai bisa melihat diriku tanpa langsung menghakimi. Aku mulai bisa berkata “Iya, aku iri hari ini” tanpa merasa harus minta maaf atas itu. Perasaan tetap datang, tapi aku tidak lagi tenggelam di dalamnya dengan cara yang sama.


Setiap orang punya jalannya. Kalimat itu terdengar klise, tapi ternyata perlu waktu bertahun-tahun untuk benar-benar menanamkannya, bukan sekadar mengangguk ketika mendengarnya. Dunia ini tidak menciptakan manusia untuk tiba di titik yang sama, di waktu yang sama, dengan cara yang sama. Keberhasilan si A bukan bukti kegagalanku. Pencapaian si B bukan tolok ukur hidupku. Ini hal yang mudah dimengerti secara logika, tapi sangat sulit diterima oleh bagian dalam diriku yang masih takut.


Lalu, siapa sebenarnya yang bertarung di dalam diri kita? Dua versi diri yang sama-sama nyata: satu yang ingin maju, berkembang, tidak mau kalah oleh keadaan, dan satu lagi yang lelah, yang iri, yang kadang ingin berhenti sejenak tanpa merasa bersalah. Keduanya bukan musuh. Keduanya adalah kamu. Pertarungan itu terjadi bukan karena ada yang salah dalam dirimu, tapi karena kamu cukup sadar untuk merasakan tegangan antara siapa kamu sekarang dan siapa yang ingin kamu jadi. Dan kesadaran itu, meski melelahkan, adalah tanda bahwa kamu masih bergerak.


Pertarungan dengan diri sendiri bukan soal siapa yang menang.


Karena kalau menang atas diriku, artinya ada bagian lain dariku yang kalah. Dan bagian yang kalah itu tetap aku juga. Mungkin tujuannya bukan memenangkan pertarungan. Mungkin tujuannya adalah belajar duduk bersama dengan semua bagian itu, yang iri, yang takut, yang lelah, yang masih mau mencoba, tanpa harus menyingkirkan salah satunya.


Tanah tandus itu nyata, tapi ternyata ada jenis bunga yang justru tumbuh di sana. Pelan-pelan. Dalam keheningan. Tanpa perlu dilihat siapapun dulu.

bottom of page