Anakku Sayang, Matilah
LotUs Malam
July 10, 2026

“Tatkala Satu-satunya Manusia yang Dahulu Mengemis Lahirmu, Kini Berbalik Menikammu.”
Matilah dengan tenang untukku, wahai darah daging kesayanganku.
KATANYA, akulah anak yang paling disayang. Kata mereka juga demikian. Aku, anak perempuan pertama dari Ayah yang paling disayanginya. Pun Mama mengakui itu. Aku menjadi anak perempuan pertamanya dan anak perempuan satu-satunya yang paling disayang olehnya. Semua orang di keluargaku selalu mengatakannya juga. Dibenarkan adanya kalau sayangnya padaku lebih berlimpah ruah daripada sayang yang diberikannya pada adikku, katanya.
Tidak.
Adikku tak pernah kekurangan kasih dan sayang darinya. Hanya saja, sayangnya padaku berlebih, katanya, lagi. Adikku tetap disayangnya. Karena nyatanya, ia menaruh beribu prasangka baik pada satu-satunya anak lelakinya itu. Nyatanya, ia menaruh segenap percaya, kalau anaknya itu tidak akan mendekati muslihat kejahatan yang ingin merayu dengan segala tipuannya. Katanya jua, tidak mungkin anaknya itu akan sudi bergaul dengan anak-anak lain yang tampilannya urakan—yang menjadikan jalanan sebagai rumah.
Tak mungkin anaknya itu mau duduk di tengah-tengah mereka yang gemar menyeduh anggur beracun dalam gelas, katanya dengan penuh keyakinan. Tak mungkin pula anaknya itu mau ikut dan mencoba bernapas di bawah gemerlapnya dunia malam, katanya. Anaknya yang satu itu, pasti senantiasa dijaga suci luar dalamnya oleh-Nya, di bawah naungan Sang Ilahi. Pula katanya, doa darinya-lah yang dipastikan menjadi tameng perlindungan..
Jadi, kekurangan sayang apalagi anaknya yang satu itu? Jelas tiada kurang secuil pun.
Begitu pula denganku yang merupakan anak kesayangannya katanya, tidak pernah kekurangan sedikit pun sayang darinya. Saking sayangnya ia padaku, ditembakinya diriku bertubi-tubi dengan banyaknya peluru prasangka yang amat buruk rupanya—yang saking buruknya nyaris membuat hatiku tergelepar mati membusuk. Saking sayangnya ia padaku, tiada sudi dirinya menaruh penuh-penuh percayanya padaku dengan kedua tangan kosongnya. Saking sayangnya ia padaku, pernah dicekalnya kedua tangan dan kakiku yang berencana ke luar dari jalan yang dibuatnya dengan bersusah payah.
Karena katanya, kalau aku yang merupakan anak kesayangannya ini dengan lancang memilih jalan untuk kulalui sesuka hati, berjuta kemungkinan menyeramkan dipastikan meliputi. Tak mungkin, katanya, nanti aku tidak akan berakhir menjadi salah satu anak yang lebih suka berpenampilan urakan—yang menjadikan jalanan sebagai rumah tinggalnya. Tidak mungkin pula, katanya, suatu saat aku tak berakhir menikmati candunya bernapas di bawah gemerlapnya dunia malam. Mustahil, sangatlah mustahil, bagiku kelak untuk tidak menjadi pecandu seduhan air anggur dalam gelas kaca beracun, katanya.
Pula tak menutup kemungkinan aku yang merupakan anak kesayangannya ini, berakhir menjadi wanita yang haus dimanja pria, katanya dengan yakin yang digenggamnya erat-erat. Tidak menutup kemungkinan, katanya, kalau aku kelak akan menjelma asing dengan Tuhan, dengan-Nya yang Esa. Maka, karena saking sayangnya ia padaku, sebelum semua prasangka yang amatlah buruk rupanya itu menyelimuti daksa dan sukmaku seutuhnya, sebelum itu benar-benar terjadi, ditikamnya-lah hatiku ini sampai terkulai mati.
Ditikamnya diriku tanpa perlawanan dengan sebilah belati yang panjangnya lebih dari satu kata. "Daripada kau nanti jadi manusia yang seperti itu, lebih baik kau mati saja sekarang!"
Belati itu menancap tepat menembus lunaknya daging hatiku.
Belati yang berlumuran darah dari hatiku yang telah tiada dibuatnya itu pun, aku simpan ia baik-baik dalam sudut tergelap kepala. Aku letakkan di dalam sekotak penuh gula, supaya manisnya terus terekam ulang di sempitnya ruang kepala—dalam himpitan laci memori, "Oh, anakku sayang, matilah."
Ah, manisnya selalu terngiang setiap kali hati kembali menjilati luka yang nyaris membuatnya jadi seonggok bangkai yang sebatas mampu terkulai. Telah terbengkalai seutuhnya kini.
©LotUs Malam, ditulis sejak tahun 2025
