top of page

I’m sorry you were not truly loved and that it made you cruel.

Aisya Kamila Aziza

April 12, 2026

Aku menyesal kamu tidak benar-benar dicintai dan itu membuatmu kejam.


Dalam wujudmu yang sekarang, tidak lagi kutemukan kehangatan yang dulu menyelimuti badan. Tiada pesan yang menggedor-gedor minta diperhatikan. Matamu tidak lagi coklat keemasan. Hitam, gelap, dan nun jauh adalah netramu. Sindiranku tak lagi kau jamu. Butuh berapa lama bagiku untuk menerima kenyataan bahwa akulah yang mengacaukan pesta itu?


Aku pergi untuk diriku, tidakkah kamu tahu? Aku ingat tulisan-tulisanmu, aku rasa kamu patut mengeluh. Sudah begitu jauh kamu mengayuh, tapi aku minta diturunkan di tengah jalan. Pil pahit itu kamu telan setelah dimabuk rasa manis yang bertahan hanya sewindu.


Aku kabur karena aku tak tahan. Ketakutan dan kebimbangan tak sepadan dengan rasa hangat yang sesekali menjalar hingga ke pipi saat kamu tersenyum padaku. Aku mencium bau parfummu di keramaian dan aku tak tahan. Yakin pada pilihan, tapi kurasakan hampa di dada.


Kamu bilang terima kasih berkali-kali dan aku hampir meludahimu. Berhenti memuji lelaki yang tidak pandai apa-apa selain merayu! Memangnya kamu pikir aku bisa apa? Kesempatan di depan mata saja aku tak kuasa. Ingin jadi apa kamu jika bersamaku? Penulis, katamu. Kemarilah, jika kamu ingin hidup dari janji palsu.


Kamu harus tahu aku brengsek. Lelaki jadi-jadian yang dimintai hati malah memberi ejek. Aku tidak baik untukmu, tidakkah kamu mengerti? Ke sana kemari kamu menenteng buku, semestinya kau pandai mencari arti. Begitu saja kamu bukan main lihainya, tapi urusan hati kamu patut dikasihani.


Aku pergi bukan karena aku tidak menyukaimu. Nyatanya — bulan dan bintang menjadi saksiku — tiada yang lebih kusuka selain tawamu. Matamu. Pipimu. Bibirmu. Kamu. Aku kehilangan tidur memikirkanmu dan kupikir aku kena penyakit ayan. Kamu meminta dan aku lakukan. Itu membuatku takut. Aku menelepon rumah sakit dan mereka bilang aku jatuh cinta. Ya, memang kenapa jika itu benar adanya? Beri dia cincin! Tidakkah kalian lihat jari manisnya? Aku dan dia sedikit lagi kawin!


Lalu tanggung jawab datang mengetuk pintu. Aku ucapkan, aku tidak tahu caranya. Perasaan ini tumpah begitu saja dan aku sungguh tidak tahu apakah itu cinta atau sekedar hiburan belaka.


Aku pergi karena aku tidak siap. Aku baca suratmu lewat jemari rapat temanku. Kamu rela menunggu. Siap atau tidak siap kamu selalu ada untukku. Tapi, aku tidak tahu jika itu yang kumau.


Aku tidak baik untukmu dan aku tak punya niatan untuk menjadi baik untukmu.


Aku menyukaimu tapi tak cukup untuk hidup bersamamu.


Aku makhluk tak bernurani yang dengan sengaja membuatmu menjadi makhluk tak bernurani lain.


Jangan jadi sepertiku. Jangan jatuh cinta padaku. Jangan bergantung pada harapan yang sempat kuobral di hadapanmu.


Aku minta maaf telah membuatmu kejam dan tak bernurani. Kebusukanku menguar dan mencemarimu. Pergi jauh-jauh dan jangan alihkan pandangan.


Kamu kejam. Cintaku yang tak nyata adalah penyebabnya.

bottom of page