top of page

Kisah Sunyi Burung Pipit

Bonniela

June 6, 2026

Burung pipit berteduh di ranting-ranting ringkih,

rupa lugu menyembul malu di balik rimbun daun,

gerimis halus sejenak meredam laju waktu,

si mungil menatap lurus jendela gedung seberang.


Di lantai lima rumah susun pinggir jalan,

rintik hujan merembes pelan ke kamar sepetak,

burung kecil heran melihat jendela tak terkatup,

apakah pemuda itu tak terusik oleh dingin?


Suatu pagi ia hendak membawa hadiah sederhana,

dedaunan kering dan tangkai madu asoka,

diselipkannya di sela-sela jendela yang selalu terbuka,

sembari menunggu wajah itu hadir di balik kaca.


Sang pemuda muncul membawa remah-remah manis,

si burung bersuka ria seolah rasa terbalas,

dibangunnya sangkar elok di ujung kusen lapuk,

berjanji menemani manusia yang tak mengusirnya.


Tibalah hari ketika pemuda baik itu pergi,

jendela tertutup rapat tanpa menyisakan celah,

burung tak kuasa menahan hembus angin kencang,

sangkarnya goyah, jatuh, tercerai-berai.


Dengan cemas ia lekas terbang menjauh,

mencari tempat berlindung sebelum petir memangsa,

namun burung malang tak mampu mengelak takdir,

angin menyeretnya ke hantam pagar besi trotoar.


Kini burung pipit terkapar di tanah basah,

tak lagi kuat mendendangkan kicau riang,

terlintas dalam benak sangkar hangat di ujung jendela,

kepaknya membeku, matanya terpejam perlahan.


Badai lewat sesaat, menyapu sisa-sisa genangan,

burung pun terkubur tanpa taburan bunga,

dalam sunyi jiwanya ingin menjelma asoka,

agar kelak menjadi hadiah bagi sang pemuda.

bottom of page