Kurasi Manusia
Sho
May 16, 2026

Aku berdiri di sebuah pasar besar yang dingin, tempat di mana manusia tidak lagi datang untuk saling memanusiakan, melainkan untuk saling menguliti. Kita sedang berada di tengah Kurasi Agung, sebuah perjamuan di mana jiwa-jiwa ditimbang seperti daging potong dan masa lalu dibedah seperti otopsi. Di sini, aku menyaksikan laki-laki yang jiwanya diperas menjadi lembaran kertas, perempuan yang martabatnya dibakar menjadi abu stigma, dan garis darah yang diputus paksa oleh birokrasi langit maupun bumi.
Di tengah kebisuan ini, aku mendongak, melemparkan gugatan langsung ke arah langit: “Tuhan, inikah wajah keadilan-Mu, ataukah kami yang terlalu lancang membangun neraka di atas bumi atas nama-Mu?”
Lihatlah laki-laki—sosok yang sejak napas pertamanya dipaksa menjadi budak di atas Meja Inventaris. Dunia adalah guru yang sangat kejam bagi mereka. Mereka tidak diajarkan untuk memiliki hati, melainkan untuk memiliki aset. Sejak kecil, punggung mereka dibebani dengan mantra: "Hargamu setara dengan apa yang kau bawa pulang, bukan siapa dirimu saat pulang."
Laki-laki dipaksa menjadi martir bagi ekonomi; mereka harus berlari seumur hidup dalam labirin angka, karena jika mereka berhenti, dunia akan meludahi mereka sebagai pecundang. Bayangkan seorang lelaki yang tulus, yang ingin mempersembahkan seluruh hidupnya bagi pujaan hati, namun justru dihempaskan oleh dinding mahar yang tak masuk akal atau penolakan keluarga yang hanya melihat tebal dompetnya. Saat ia ditolak karena "kurang angka" dengan cara yang merobek harga dirinya, ia tidak hanya kehilangan cintanya, ia kehilangan kewarasannya.
Dunia yang mengajarkan bahwa "laki-laki adalah mesin ATM" inilah yang akhirnya melahirkan monster. Karena mereka sudah habis-habisan diperas dan dihina saat miskin, ketika mereka akhirnya memegang kendali materi, mereka merasa berhak menjadi Tuhan-tuhan kecil. Munculah logika berkarat: "Aku sudah menukar separuh nyawaku demi angka ini, maka aku berhak menuntut kesempurnaan mutlak dari perempuan." Mereka mulai menilai masa lalu perempuan dengan kalkulator, seolah-olah kesucian bisa ditukar-tambah dengan uang jutaan rupiah. Kita tidak bisa hanya menyalahkan mereka; kita harus menyalahkan dunia yang mengajari mereka bahwa cinta hanyalah sebuah transaksi.
Di sisi lain, aku melihat perempuan yang dipajang di Etalase Moralitas. Jika laki-laki dikuliti dari hartanya, perempuan dibedah dari "kebeningan" sejarahnya. Dunia ini adalah kurator yang haus darah; mereka mencari-cari retakan terkecil pada tubuh perempuan untuk dijadikan bahan lelang di meja makan.
Sekali saja ia jatuh, sekali saja ia memiliki luka yang tak sesuai dengan standar puritan, masyarakat akan segera menyiramnya dengan stigma. Mereka melabelinya "tidak bisa menjaga diri," seolah-olah seluruh sejarah kebaikan dan kecerdasannya bisa hangus hanya karena satu lembar masa lalu yang tidak "putih." Betapa ironisnya; laki-laki dimaafkan atas segala kebejatan asalkan ia berharta, namun perempuan dihukum seumur hidup atas satu luka—hukuman yang seringkali datang dari laki-laki yang juga sedang terluka oleh sistem yang memerasnya seumur hidup.
Namun, puncak dari segala kekejaman sistem ini adalah ketika aku melihat sebuah garis darah yang dianggap tidak pernah ada. Bayangkan seorang ayah—lelaki yang mungkin pernah melakukan kesalahan fatal di masa mudanya, namun ia memilih untuk menetap. Ia memilih untuk mendekap putrinya saat demam, bekerja membanting tulang agar anaknya bisa sekolah, dan mencintainya lebih dari nyawanya sendiri.
Lalu hari pelaminan itu tiba. Sang ayah ingin menjabat tangan calon menantunya, ingin menyerahkan belahan jiwanya dengan bangga. Namun, dunia datang dengan dinginnya—lewat aturan agama maupun hukum negara yang kaku—dan berbisik tepat di telinganya: "Kalian adalah orang asing yang tidak punya ikatan."
Tidak ada jembatan yang bisa menghubungkan mereka. Karena sebuah prosedur yang terlewat di masa lalu, sang ayah harus menelan kenyataan paling pahit: bahwa secara sah, baik di hadapan hukum Tuhan maupun manusia, ia tidak punya hak sedikit pun atas anak yang ia besarkan dengan darah dan air matanya. Ia harus berdiri di barisan paling belakang, menonton orang asing mengambil perannya sebagai wali, menyadari bahwa di mata sistem, cintanya selama puluhan tahun tetaplah angka nol. Aku sungguh kehilangan akal melihat betapa beku dan matinya nurani kolektif kita, yang lebih memuja validasi administrasi daripada tanggung jawab yang nyata.
Betapa gila dunia ini; di sudut lain, aku melihat seorang ayah yang bajingan, yang tak pernah memberikan kasih sayang, yang mungkin sudah lama menghilang. Namun, karena ia memiliki secarik kertas bernama "pernikahan sah," birokrasi justru memburu dan memaksanya hadir untuk menjadi wali. Seorang anak dipaksa memohon pada lukanya sendiri, memohon pada lelaki yang membuangnya, hanya agar pernikahannya dianggap sah oleh aturan.
Mengapa yang tulus dianggap "orang asing", sementara yang bajingan tetap dipuja sebagai "pemilik kunci"?
Melihat semua kekejian yang dibungkus dengan nama "tradisi" dan "aturan" ini, aku tidak bisa tidak bertanya pada-Mu, Tuhan.
"Benarkah Engkau sedingin aturan yang mereka buat atas nama-Mu? Mengapa Engkau biarkan kasih sayang tulus seorang ayah tetap menjadikannya 'orang asing' bagi darah dagingnya sendiri, tanpa celah sedikit pun untuk cinta? Mengapa Engkau biarkan laki-laki dididik untuk merasa bisa membeli martabat karena mereka terlalu sering diinjak saat tak punya harta? Dan mengapa perempuan terus-menerus dikuliti oleh stigma atas nama kesucian?"
Aku benar-benar muak. Kita lebih takut pada cacat dokumentasi daripada cacat empati. Kita lebih sibuk memastikan silsilah yang "murni" daripada memastikan apakah kita masih memiliki sisa-sisa kemanusiaan untuk saling merangkul.
Kita menciptakan sistem yang memenjara laki-laki dalam ambisi materi dan membelenggu perempuan dalam stigma, lalu dengan sombongnya kita merasa paling suci di hadapan-Mu. Sungguh, dunia ini telah menjadi tempat di mana kertas lebih dihargai daripada nyawa, dan aturan lebih dipuja daripada cinta yang penuh luka.
