top of page

Lagu-Lagu yang Masih Hadir

J. Kaur

April 26, 2026

Perasaan manusia memang aneh. Ia sering datang begitu cepat, lalu pergi tanpa benar-benar kita sadari. Kadang semuanya dimulai dari amarah. Bukan karena sesuatu yang besar, melainkan karena cara pikiran kita bekerja, menangkap sesuatu secara mentah, tanpa memberi ruang untuk memahami. Kita terlalu cepat menyimpulkan, terlalu cepat percaya pada apa yang terlihat sekilas, dan terlalu ragu untuk mengakui bahwa mungkin masih ada hal baik yang tersisa. Lalu waktu berjalan. Seperti hujan yang akhirnya berhenti setelah menumpahkan seluruh langitnya, amarah perlahan mereda. Ia tidak benar-benar hilang, tapi berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang. Lebih sunyi.


Hari ini, tiba-tiba sebuah memori muncul kembali. Aku tidak tahu kenapa ia datang. Mungkin karena ingatan memang punya caranya sendiri untuk bertahan. Dan hari ini, memori itu memilih untuk hidup kembali, di dalam sebuah tulisan. Aku selalu mencintai musik, meskipun aku tidak pernah merasa benar-benar memahami dunia itu sepenuhnya. Ada satu playlist yang sampai sekarang masih kusimpan. Playlist itu bukan milikku. Ia milik seseorang yang sangat mencintai musik rock.


“Heavy Wave” dari Motorama menjadi lagu pembuka di sana.


Anehnya, playlist itu sendiri tidak benar-benar dipenuhi musik rock yang keras. Lebih banyak pop rock, musik yang ringan, tapi tetap membawa denyut yang terasa hidup. Dulu, setelah semua kejadian yang terasa begitu rumit dan sedikit konyol itu, aku sempat membenci playlist tersebut. Setiap lagu di dalamnya terasa seperti pengingat yang tidak ingin kudengar. Padahal, akulah yang dulu meminta agar playlist itu tetap ada. Aku yang memintanya untuk tidak pernah dihapus.


Dan ternyata, sampai sekarang playlist itu masih tersimpan.


Semua lagu masih ada. Tidak ada yang hilang. Aku sedikit terkejut ketika melihatnya lagi. Seolah waktu tidak pernah benar-benar menyentuhnya. Entah kapan tepatnya, tapi perasaan marah yang dulu terasa begitu besar ternyata sudah lama menjadi tenang. Sekarang, playlist itu justru sering menemani hariku, ketika aku membaca, ketika menulis, bahkan ketika aku hanya duduk dan mencoba berpikir. Ada dopamin yang perlahan mengalir, membantu neuron-neuron di setiap titik di kepalaku menyalakan kembali rasa tenang, sebuah reaksi kecil yang membuat semua hal baik terasa mungkin.


Musik di dalamnya seperti memberi ruang kecil di kepalaku untuk bernapas. Ada ketenangan yang perlahan muncul, seolah setiap nada membantu pikiranku mengingat bahwa tidak semua hal harus terasa berat. Aku tidak bisa mengucapkan terima kasih secara langsung kepada si pecinta musik itu.


Tapi mungkin, jika nanti ia membaca tulisan ini, ia akan mengerti. Bukan karena aku ingin memulai percakapan lagi. Dan bahkan tidak ada harapanku untuk bertemu dengannya lagi. Aku hanya ingin hidup di dalam playlist ini. Sendirian. Namun tetap bersyukur. Karena dari sana, aku selalu berhasil menemukan satu memori baik, setiap kali memori buruk datang dan mencoba mengambil lebih banyak ruang di kepalaku.

bottom of page