Petjah LARA, Sewaktu Gebu Menjelma Semu
LotUs Malam
April 3, 2026

A Glimpse of Tragedy Where Birth Meets Demise
SEMUA arus memiliki muaranya, di mana di sana lah sebesar apa pun angkuh yang kokohkan badan ombak akan berakhir surut—menciut juga akhirnya badannya. Tak perlu sejauh itu, pun setinggi apa pun diri membawa rasa; dari cinta sampai derita, semuanya tinggal menanti masanya untuk sirna. Sesederhana pecinta cokelat yang ujungnya akan memekat jenuhnya menelan rasa yang sama setiap hari—di tiap detik dan menit.
Tinggal menunggu waktu mainnya saja buat yang menggebu menjelma semu pada akhirnya. Serupa waktu yang lambat laun terurai leraikan dirinya jadi serpihan debu. Pada akhirnya, segala yang pernah meluap-luap raupi diri dengan warna-warni hanya menunggu saatnya menguap bak kelabu yang mengabut tepiskan pelangi dengan bengisnya.
Aku pun tahu waktunya telah tiba, tat kala pagi tak lagi menyambut dengan debar yang menyambari sukma dan daksa—hanya ada gelisah yang mengganti rayapi diri secara perlahan tapi penuh pasti. Layaknya gumpalan awan mendung yang membendung payungi Bumi, enggan sekali beranjak pergi meski matahari memanggil dengan gigil yang menggigiti.
Kau menatapku dengan senyum yang tergenggami erat wajahmu. Sorot matamu yang kini bukan lagi memancar terbarkan tanya akan kabarku, melainkan mengulurkan sebuah simpul yang siap dilepas. Untuk kali ini, tiada satu pun dari kita yang sanggup bercukup dengan merengganginya, mengurainya. “Apa kita ini ... baik-baik saja, Ra?” Suara itu goyah tanpa pemapah, tetapi cukup untuk mengguncang dada yang sejak lama kupaksa berenang di atas tenang yang menggenang.
Aku ingin mengiyakan tanpa adanya tapi, tanpa perlukan berbasa-basi. Namun, sayangnya, kata itu lebih dulu luruh terjatuh sebelum sempat terlahir dari lisanku. “Tidak ada yang benar-benar baik,” kataku. “Kita hanya ... bertahan terlalu lama, Yanuarta.”
Di antara kami, jeda berlangsung turun selayaknya gugurnya duka awan yang sudah kehabisan pasokan kepingan airnya. Sama sekali tidak lah menyakitkan, hanya saja, cukup untuk menandai bahwa sesuatu telah terpecah belah tanpa berkesempatan lagi memintai tolong. Bukan karena dibentur guntur yang berguguran di hati, melainkan karena dibiarkan terlalu lama dalam dekapan yang hangatnya telah meleleh menjelma dingin yang tidak lah dapat beringin kembali.
Kau pun lantas mengangguk perlahan, separuh pasti. Seolah-olah akhirnya dapat dengan benar mendengar gema dari sesuatu yang sudah lama kau tahu perlu menghiraukannya dari suar suara yang lisanku gaungkan, entah berapa kali diulang. “Kalau begitu,” ucapmu mengambil napas sejenak sebelum menutur lunturkan kalimat penutup, “Kali ini, biar aku berhenti memegang apa pun yang ingin pergi, Ra.”
Tepat seusai itu, tak ada hujan yang berpindah singgahi dua pasang mata dari kedua insan ini. Tak ada pula pintu yang terdengar membanting diri karenanya. Hanya ada sebakul rasa yang turut meluruh lantak tanpa peringatan—seperti dedaunan yang jatuh bukan karena ingin akan kehendak angin, melainkan karena waktunya memang sudah selesai. Sudah usai tersemai.
Enggan berpaku pada pisah yang tidak berundangkan perayaan megah, aku pun memilih berpaling darinya, berjalan menuju ke beranda memunggungi pintu yang terkuak lebarnya bersamamu di luarnya. Senja nampak mulai menipis ditepis bengisnya waktu, bersanding dengan langit yang rupanya persis seseorang yang mencoba memekarkan rekah sekuntum senyum selepas dinyatakan kalah. Desau angin tiada jemu menyapu wajahku, begitu berlemah lembut seakan-akan mengatakan bahwa: kehilangan tak selalu perlu digugat, terkadang hanya perlu diterima sebagai akhir yang paling sunyi, jauh dari meriah yang berapi-api.
Yah, begitulah yang menggebu itu akhirnya menjelma semu. Di mana kesemuannya, entah bagaimana, justru terasa lebih jujur daripada nyala yang sejak lama kupaksa tetap hidup dan tak pernah kubiarkan redup menyeludup sedikit pun
Aku menarik napas panjang—pelan, berat, namun tanpa adanya beban yang hinggap menunggangi sukma dan kepala barang secuil pun. Sebab di titik itu lah aku mengetahui, bahwa beberapa kisah memang tercipta hanya untuk mengajarkan; bagaimana melepaskan sesuatu yang pernah lahir dengan indah, sebelum ia menemui musnahnya sendiri.
© LotUs Malam, ditulis sejak 2025
