Prolog dari Si Nona Kuas, RINAI
LotUs Malam
May 12, 2026

Biarkan aku memberitahumu sesuatu;
sesuatu yang menciptakan untaian lirik,
di tiap-tiap kali daksa bernapas tanpa desak.
Pun beberapa keindahannya tak mampu dilepas dengan hanya tarian lisan.
Biarkan aku memberitahumu sesuatu;
sesuatu yang terdekap kian eratnya,
tanpa adanya detak.
Pun beberapa masih tertinggal,
menyisakan jejak yang kian lamat menghangat—
lumati sanubari yang enggan mati dilumuti waktu.
Sesuatu yang dihidupkan dalam RENJANA;
sesuatu yang wanginya senantiasa terkenang,
bagai setangkai Bunga Kenanga.
Pula hangatnya,
tak terlupa ia serupa dekap tatap Matahari Senja.
Sesuatu itu...
masih hidup menetap di palung hati sampai sekarang,
diharapkan mampu dibawa diri—
jauh melewati kata ”selamanya”.
Pemiliknya, tentu hanya dia seorang;
Si Tuan Kanvas—
yang tenggelam di ufuk membersamai perginya senja,
tanpa berenang menjumpai esok fajar seusainya.
•••••
“KALAU, suatu saat nanti semesta fana ini beserta segenap isinya membuangku, apa kamu masih sudi memungut dan menerima utuhku kembali, Nai?"
"Pastinya, dong. Sudi banget malah. Itu berarti, gue bisa menjadikan Renjana Kenanga Matahari Senja milik gue seorang, dong! tapi, kenapa tiba-tiba nanyain persoalan begitu?"
"Bukan apa-apa, Nai. Cuma sekadar bertanya aja, kok," jawab si Tuan Kanvas-nya itu, sengaja sekali mengelak dari tanda tanya tersebut.
Belum mengumpulkan nyali dirinya untuk menoreh tamparan keras akan kenyataan, pada satu satunya sosok gadis pemilik kuasnya yang kini tengah berdiri tepat di depannya. Renjana pun lantas mulai menarik napas teramat dalam, cukup dalam. Maka dengan begitu, diharapkan dirinya dapat meneruskan dialognya, di bawah luasa naungan teduhnya payung jingga raksasa yang berkenan menjadi saksi bisunya, "Lalu .... kalau suatu waktu, Senja berpulang ke pangkuan ufuk dan aku nggak miliki kuasa untuk kembali. Bagaimana, Nai?"
Satu tanya itu mengambang cukup lama di udara. Terombang-ambing tak tentu arah, seakan akan enggan memasuki selorong dermaga yang pemiliknya saat itu juga sebatas mampu terpaku di atas pijakannya. Tergagu ia sepenuhnya, seutuhnya. Sementara di luar dari radar sadarnya, ada sepasang permata karamel yang membeku —mendelik tanpa sanggup berkutik di detik itu.
©LotUs Malam, ditulis sejak tahun 2022
