Saksi dari Sudut Aspal
J. Kaur
April 17, 2026

Aku merasa perlahan kehilangan segala yang pernah kuanggap milikku, emosi, ekspresi, bahkan diriku sendiri. Semuanya menguap dalam kebingungan yang berjalan di jalan panjang tanpa arah, menuju ujung yang tak pernah kutahu di mana. Aku ingin berteriak, tapi ada sesuatu yang menahan di kerongkonganku, seolah dunia tak ingin mendengarku. Aku ingin bersuara, tapi gema dari kejauhan seakan mengecam setiap kata yang belum sempat lahir. Aku ingin beristirahat, tapi setiap kali mencoba, selalu ada suara asing yang menempelkan label murahan di dahiku, memaksaku untuk tetap melangkah.
Dulu, dunia terasa begitu berisik, penuh perdebatan bodoh dan suara-suara yang saling berlomba untuk benar. Tapi kini, semua menjadi senyap. Kosong. Bahkan di tengah lautan mulut yang terus berbicara dan mata yang selalu mengamati, aku tak lagi mendengar apa-apa, tak lagi merasa dilihat.
Kadang aku bertanya-tanya, jika hidup memang tentang mencari sesuatu, dan setiap manusia memiliki jalannya masing-masing,
Lalu ke mana kita harus berlari?
Kapan kita boleh berhenti tanpa rasa bersalah?
Dan kapan, akhirnya, kita benar-benar hidup untuk diri sendiri, bukan untuk apa yang dunia tuntut kita menjadi?
Bukankah kita ini hanya manusia, yang tak pernah meminta untuk dilahirkan? Bukankah kita ini hanya manusia, yang bermula dari ketidaktahuan, lalu perlahan dipaksa memahami seluruh isi dunia seolah kita sanggup menanggungnya? Aku tak pernah merasakan kelembutan tutur ibu saat mengajarkan arti tenang. Tak pernah pula belajar tentang keteguhan dari sosok ayah yang dunia selalu banggakan. Bahkan tawa kecil bersama adik pun tak pernah menjadi bagian dari ingatanku.
Aku tumbuh sendirian di antara suara-suara yang tak pernah benar-benar mendengar. Tak ada teman yang mau singgah dan berbincang tentang isi kepala, tentang dunia, tentang luka, atau sekadar tentang kenapa kita masih bertahan. Dan di atas semua itu, aku dipaksa belajar melepaskan seseorang yang kucintai setengah mati, demi kebahagiaannya dengan orang lain, yang katanya, adalah takdir dari Tuhan.
Aku tidak berbeda dengan para gelandangan di luar sana, yang hidup di antara kerasnya jalanan dan kisah-kisah pahit yang justru membuat mereka bertahan.
Dengan mataku, aku melihat setiap kejahatan yang bersembunyi di sudut-sudut aspal, dosa yang dibiarkan hidup bersama langkah-langkah manusia yang pura-pura suci. Dengan hidungku, aku mencium aroma kematian yang samar, berasal dari luka-luka yang tak pernah sempat disembuhkan. Dengan telingaku, aku mendengar raungan kesombongan dan teriakan minta tolong yang saling menindih, hingga sulit dibedakan mana yang benar-benar jujur. Dan dengan hatiku, aku merasakan setiap sakit yang datang tanpa permisi, menghujam tanpa belas kasih, dan pergi tanpa pernah memberi ruang untuk sembuh.
Mungkin inilah hidup, sebuah perjalanan tanpa peta, di mana kehilangan menjadi bahasa sehari-hari, dan kesunyian menjadi satu-satunya teman yang tak pernah meninggalkan.
Sesuatu yang terus akan berlanjut, Jane Eyre, 2025.
