tiga nyawa dan sepuluh juta rupiah.
eghib
March 17, 2026

Di dunia ini, ada tiga jenis manusia. Mereka yang kenyang, mereka yang lelah, dan mereka yang lapar.
Mereka yang kenyang pesan salmon impor tiap beberapa hari sekali, dihidangkan dengan sake pelengkap dan dessert yang dihias layaknya taman mini. Total tagihan sekali makan? Sepuluh juta rupiah dikeluarkan. Mereka membayar dengan kartu, memberi tip lima persen sambil lalu, kemudian pulang ke rumah megah bak istana ratu. Sepuluh juta habis dalam sekali makan. Manusia ini hidup di atas awan.
Mereka yang lelah bangun pukul 04.30 lima atau enam kali seminggu, naik KRL dua jam desak-desakan dengan sesama manusia yang tahu ini bukan hal baru, lembur tanpa uang pengganti waktu, dan di akhir bulan menerima transfer gaji sepuluh juta rupiah seperti selalu. Separuh habis untuk cicilan motor dan kontrakan, separuh lagi untuk hidup tiga minggu ke depan. Sepuluh juta habis dengan tabungan belum seberapa. Manusia ini hidup sejajar dengan mata.
Mereka yang lapar tidak pernah menyentuh sepuluh juta dalam satu waktu. Rekening bank saja, mereka mati-matian menambahkan angka baru. Ketika tetangganya bilang, “kerja tiap hari, nanti naik gaji,” mereka hanya bisa mengangguk berulang-ulang. Mereka bahkan tidak berani memimpikan nominal ini, karena mimpi butuh energi dan energi habis untuk bertahan setiap hari. Sepuluh juta tidak pernah ada dalam genggaman tangan. Manusia ini hidup di bawah bayangan.
Tiga nyawa, satu angka, tiga dunia yang berbeda. Aku di antaranya, sedikit di bawah bayangan tapi masih bisa menginjak tanah yang sejajar mata.
Ini bukan kebetulan, ini rancangan.
Yang di puncak, mungkin tak semuanya jahat. Mungkin beberapa di antara mereka baik: memberi sedekah tiap Jumat, marah ketika melihat berita kemiskinan lagi-lagi meningkat. Tapi kebaikan tidak meminta mereka melihat lebih dekat, dan sistem menjaga jarak antara mereka dan kaum yang sekarat. Perumahan berpagar, paket dan pesanan online yang terus diantar, algoritma media sosial yang tak pernah menampilkan kelaparan di linimasa yang sama dengan liburan di Raja Ampat.
Mungkin tak semua dari mereka turut andil mendesain ketimpangan ini, tapi mereka juga tak pernah dipaksa mempertanyakan apa yang sedang terjadi. Lalu ada yang di lembah. Sepuluh juta sebulan adalah angka yang cukup untuk membuat mereka percaya bahwa mereka sedang “naik kelas” dengan stabil. Cukup untuk KPR kecil, cukup untuk liburan setahun sekali, cukup untuk merasa bahwa sistem ini adil karena di dalamnya, mereka sedang berhasil.
Tapi itu juga angka yang cukup tipis untuk membuat mereka takut jatuh. Yang diperlukan hanyalah satu kecelakaan atau satu PHK besar-besaran, dan semua yang dibangun dari sepuluh juta per bulan itu bisa runtuh dalam hitungan pekan. Kapitalisme memberi mereka cukup untuk percaya, tapi tidak pernah cukup agar mereka benar-benar aman. Mereka sibuk bertahan sampai lupa bertanya mengapa imbalan kerja keras tiap bulan seakan tak pernah sepadan.
Di lereng bumi, ada yang tidak sempat bertanya apa-apa. Mereka tidak membaca buku tentang kapitalisme atau mengikuti debat terkait kebijakan ekonomi negara. Mereka hanya tahu bahwa hari ini harus makan, besok juga harus makan, dan energinya habis untuk memastikan.
Kapitalisme tidak hanya mengambil uang dan energi, namun juga mengambil keberaniannya untuk bermimpi. Sungguh aturan main yang kejam, membuat hidup jutaan orang kelam seperti diselimuti abadinya malam. Tak sedikit yang memilih menutup hidupnya sendiri, karena setengah mati memperjuangkan pundi-pundi seperti tetap tak ada arti, seakan dikutuk untuk sengsara sampai mati.
Aku tidak membenci mereka yang di atas awan, tapi aku juga tidak punya energi dan rasa kebersamaan untuk membela mereka seakan kawan. Kami tidak senasib sepenanggungan.
Aku sibuk memikirkan makan apa besok hari, tugas kuliah yang menghantam bertubi-tubi, dan apakah aku bisa beli laptop baru atau harus memakai yang sekarang sampai lulus nanti. Di sela-sela itu, saat hanya ada aku dan smartphone di antara jari, kadang rasa ingin tahu menghampiri: apa yang mereka makan dengan sepuluh juta itu? Apa seenak itu? Apa mereka bisa beli kentang goreng sebanyak yang mereka mau? Aku sangat suka kentang goreng. Seandainya aku terlahir dengan sendok emas di sela gigi, aku akan makan kentang goreng tiap hari, sungguh persetan dengan hal-hal trendi.
Aku tidak bisa menebak apakah aku akan pernah tahu.
Yang saat ini kutahu ialah di kampus, aku dan teman-teman dengan latar belakang mirip hampir tidak pernah membicarakan ini dengan ambisius atau hingga terbawa arus. Kami lebih tertarik membicarakan tugas yang bikin merana, memperdebatkan beli makan siang di fakultas mana, menertawakan lelucon di antara kami yang sesaat jadi distraksi penuh warna. Kapitalisme tidak perlu memukul kami setiap hari untuk membuat kami terengah mengatur napas dan keuangan hingga terus memupuk rasa frustrasi.
Kadang aku benci dengan orang-orang yang bilang sistem ini adil. Kadang aku iri dengan orang-orang yang percaya sistem ini adil.
Mereka bilang: kerja keras, naik ke atas, nikmati hasil tanpa cemas. Tapi aku melihat ayahku kerja keras seumur hidup mengumpulkan uang, dan masih tidak sebanding gajinya dengan mereka yang kenyang. Beliau tidak pernah malas, tetapi bukan berarti sistem cepat mengangkat kami ke atas.
Aku sungguh takut bahwa ketika lulus nanti, aku masuk ke pasar kerja yang sama dengan para manusia yang sejajar mata sampai mati. Aku tidak naif: mobilitas sosial itu mungkin, tetapi tidak segampang masuk angin. Dan kebanyakan dari mereka yang lelah hanya bisa berharap tidak jatuh ke bawah saat sedang mencicil rumah.
Aku menulis ini bukan karena punya solusi.
Aku menulis ini karena capek mendengar orang-orang di puncak bilang, “kami juga pernah miskin,” seakan-akan itu membatalkan semua struktur dan penghalang untuk orang-orang di lembah dan lereng bumi. Aku capek melihat diskusi tentang ketimpangan sosial selalu dibingkai dengan angka dan grafik, padahal di balik setiap persentase ada orang yang lagi-lagi harus memilih untuk beli buku atau bayar listrik.
"Tapi mereka bisa kerja lebih keras."
Aku muak mendengar ini.
Karena orang yang makan dan menghabiskan sepuluh juta dalam sekali duduk tidak bekerja seratus kali lebih keras dari orang yang lembur tiap malam untuk nominal yang sama. Orang yang lahir di keluarga dengan tabungan dan koneksi tidak "lebih berusaha" dari orang yang harus putus sekolah karena ibu jatuh sakit dan ia berakhir harus menopang ekonomi keluarga.
Yang di atas awan membangun mitos kerja keras agar sesamanya tak perlu mengakui bahwa mereka kenyang. Agar mereka bisa tidur nyenyak sementara di luar sana, orang lain tenggelam, dan mereka hanya perlu bilang bahwa yang sejajar mata dan di bawah bayangan hanya tidak cukup kuat berenang.
Sepuluh juta adalah angka yang sama tetapi nilainya jadi berbeda untuk tiga jenis manusia. Sekarang, setiap melihat angka sepuluh juta, aku tidak bisa tidak membayangkan tiga kehidupan berbeda. Satu yang menikmati, satu yang bertahan setiap hari, satu yang bahkan tidak berani menjadikannya mimpi. Mereka bukan terpisahkan oleh jarak, tetapi oleh sistem keji yang mengatur kita sejak lahir, dan sampai sekarang masih seperti ini.
Aku tumbuh dan hidup di tengah-tengah, di bawah bayangan tetapi sejajar mata, dihantui rasa lapar dan lelah, pernah di lereng dan pernah juga di lembah. Aku tidak akan lupa dari mana aku datang dan sudah sejauh apa keluargaku melangkah. Pengalamanku adalah pengingat luka tetapi juga sebuah lensa.
Semoga bumi jadi lebih adil untuk kita.
